Istimewa

Hallomuslim.com – Raudhah menjadi salah satu tempat di Tanah Suci yang paling banyak menarik jutaan umat muslim di Dunia. Raudhah (taman), atau dikenal juga dengan sebutan Raudhah al-Jannah (taman surga), Raudhah al-Muthahharah (taman men-suci-kan), serta Raudhah as-Syarifah (taman mulia).

Kenapa Raudhah seolah jadi magnet yang menarik setiap jama’ah umrah dan haji, ternyata jika dimaknai secara mendalam dari  non fisik, sisi kepercayaan raudhah adalah sebuah tempat yang dipersonifikasikan atau diserupakan dengan sesuatu yang suci, mulia, agung, indah, dan damai.

Hal itu tidak hanya semata bersifat secara materi yang nampak dapat terlihat, namun lebih jauh lagi ada rasa yang tidak bisa digambarkan oleh ungkapan apapun, ini benar-benar nyata adanya bagi umat Islam yang mempercayainya, terkhusus para tamu Allah (hujaj dan umrah).

Bagi umat Islam, kepercayaan akan keistimewaan Raudhah ini berdasar pada nash yang qot’i (pasti), yakni : “Di antara rumahku dan mimbarku terdapat taman dari taman-taman surga.” (HR. Bukhari, no. 1195 dan Muslim, no. 1391). Dalam riwayat yang lainnya ditambahkan “Dan mimbarku berada di atas telagaku.” (HR. Bukhari, 1196).

Uraian Dari Makna Hadits

Para ulama berbeda pendapat soal ungkapan “Taman Surga” dari hadits di atas. Pendapat atau tafsiran dari ungkapan tersebut seperti yang terangkum dalam buku Ensiklopedi Peradaban Islam: Madinah, entri Raudhah sebagaimana beraikut :

Pertama, menurut al-Khattabi bahwa barangsiapa yang senantiasa melakukan ibadah di raudhah, maka ketaatan itu akan membawanya ke taman surga. 

Kedua, Ibnu an-Najjār mengatakan bahwa maksudnya tempat raudhah sekarang ini sendirilah yang akan menjadi taman surga. 

Ketiga, dari Ibnu ‘Abdil Bar berpendapat bahwa dulu Rasulullah dan para sahabatnya senantiasa bersama-sama di tempat tersebut sehingga tempat itu seperti sebuah taman (surga). Pendapat ini diperkuat oleh hadits “Apabila kamu melalui salah satu taman surga, hendaklah kamu berhenti.” Lalu sahabat bertanya, “Apa taman surga itu ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Majelis dzikir (illmu).”

Keempat, oleh Ibnu Hazm berpendapat bahwa maksud dari istilah ‘taman surga’ itu adalah (1) tempat yang menyerupai taman surga dalam mendatangkan kebahagiaan serta ketenangan bagi orang yang duduk di dalamnya. (2) Melakukan ibadah di tempat tersebut menjadi sebab seseorang masuk surga.  

Kelima, Al-Qadhi Iyadh berpendapat bahwa tempat itu yang menyebabkan seseorang masuk surga, lantaran doa dan shalat di dalamnya, maka ia layak mendapatkan balasan seperi itu.

Keenam,  Ad-Daudi dalam Asy-Syifa, 2/92 berpendapat bahwa tempat itu sendirilah yang akan Allah pindahkan secara fisik ke surga.

Ketujuh, Imam An-Nawawi berkata bahwa, pertama: Tempat tersebut secara fisiki akan dipindahkan ke surga, sebagaimana pendapat ad-Daudi. Kedua: sependapat dengan Qadhi Iyadh bahwa ibadah di dalamnya akan mengantarkan pelakunya masuk surga.

Kedelapan, Al-Hafidz Ibnu Hajar menyatakan bahwa maksud dari ungkapan “(Salah satu) dari taman surga” itu adalah bagaikan salah satu taman surga dalam hal mendatangkan rahmat serta kebahagiaan yang dapat diraih dengan selalu berada dalam perkumpulan majelis dzikir. Khususnya pada zaman Rasulullah saw. Maka ini merupakan bentuk tasybih (penyerupaan) tanpa menggunakan perangkat. Atau maknanya adalah bahwa ibadah di dalamnya akan mengantarkannya ke surga. Maka dengan demikian adalah bentuk majaz (kiasan). Atau (maknanya yang lain) dipahami secara zahir, yaitu bahwa ini merupakan taman secara hakiki dan tempat itu secara fisik akan dipindahkan ke surga. (Fathul Bari, 4/100).

Raudhah tidak pernah sepi

Awalnya Raudhah merupakan tempat yang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam biasa gunakan untuk beribadah, terutama shalat, seperti shalat lima waktu dan shalat sunnah tahajjud. Oleh karena itu raudhah dipercayai sebagai tempat yang paling mulia dan mustajab di Masjid Nabawi, Madinah. “Barangsiapa yang berdoa di tempat ini (raudhah) maka akan langsung diijabah oleh Allah subhanahu wata’ala,”

Di zaman Rasulullah, Raudhah panjangnya sekitar 26 meter dari arah Timur ke Barat. Sedangkan saat ini hanya tinggal 22 meter saja, karena dipakai sekat tembok makam Rasulullah, Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Sedangkan arah dari Utara ke Selatan panjangnya 15 meter.

Area seluas 22 x 15 m2 inilah salah satu tempat yang diburu oleh para jama’ah haji dan umrah yang jumlahnya puluhan juta orang per musimnya.

Maka wajar saja, meskipun sudah diatur oleh polisi Masjid al-Haramain atau yang lebih dikenal dengan sebutan asykar syari’ah, tetap saja masih berdesak-desakkan memasuki “Taman Surga” ini. Maka untuk memberi kesempatan pada jama’ah yang lain, jika jama’ah sudah melakukan shalat dua rakaat dan berdoa, lekas diminta untuk segera keluar. (drm/hdy)

LEAVE A REPLY