Istimewa

Hallomuslim – Tragedi bencana besar yang melanda kota serambi makkah pada Desember tahun 2004 lalu menjadi sebuah kenangan yang sangat memilukan bagi sebagian besar penduduk Aceh. Dahsyatnya gelombang tsunami yang merenggut hingga ratusan ribu manusia ini pun masuk dalam catatan tragedi besar sejarah dunia. Kini peristiwa dahsyat tesebut sudah 12 berlalu, meski demikian bukan berarti peristiwa tersebut harus dilupakan begitu saja.

Sejatinya peristiwa besar  patut dikenang, bukan untuk membuka kesedihan di masa lalu melainkan sebagai upaya untuk meningkatkan rasa syukur dan menguatkan iman kepada Allah. Itulah sebabnya, cerita dari fenomena tsunami Aceh ini telah disimpan dalam suatu gedung yang dikenal dengan sebutan “Musium Tsunami”.

Sekilas bentuk bangunan musium ini tampak berbeda dengan beberapa musium pada umumnya, konsep bangunan terlihat unik dan penuh dengan makna, sehingga ini memberikan kesan tersendiri bagi setiap pengunjung yang datang.  Istimewanya lagi, bangunan unik dari musium tsunami ini didesain langsung oleh arsitek kenamaan M. Ridwan Kamil yang sekarang menjabat sebagai Walikota Bandung.

Karena ingin memberikan makna yang mendalam, untuk membuatnya butuh waktu  yang cukup lama, baginya kesulitan membuat rancang bangun bernilai artistik tinggi adalah hal lumrah. Namun   manakala merancang bangunan Musium Tsunami, tak jarang pergulatan emosi terjadi selama proses perancangan gedung berlangsung. Sehingga kesulitannya jauh lebih besar karena baginya desain musium ini harus dapat menyampaikan kesan tersendiri bagi setiap pengunjung.

Museum Tsunami Aceh dibangun atas prakarsa beberapa lembaga yaitu Badan Rekontruksi dan Aceh-Nias, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Pemerintah Daerah Aceh, Pemerintah Kota Banda Aceh, dan Ikatan Arsitek Indonesia. Dari arah luar dapat terlihat bangunan ini berbentuk seperti kapal, dengan sebuah mercusuar berdiri tegak di atasnya. Tampilan eksterior yang luar biasa yang mengekspresikan keberagaman budaya Aceh kental terlihat pada bangunan ini.

Bangunan ini merupakan sebuah struktur ruang yang terdiri dari empat lantai dengan luas 2.500 m² dan dinding lengkungnya ditutupi relief geometris. Sebelum memasuki ruang musium terdapat bangkai helicopter, mobil, bahkan batang pohon besar yang tercabut sampai akarnya akibat diterjang gelombang tsunami. Bahkan musium yang didesain secara khusus ini diklaim sebagai bangunan tahan goncangan tsunami.

Tidak ada tarif masuk bagi pengunjung yang hendak memasuki musium ini, namun jika ingin menyaksikan tayangan 4D maka akan di pungut biaya. Selain keunikan desain yang tampak dari luar, bentuk bangunan yang ada di dalamnya pun terbilang unik. Karena ketika memasuki musium harus melewati lorong sempit dengan air terjun yang mengeluarkan suara begemuruh di kedua sisinya seakan suasana seperti ini mengingatkan kembali akan dahsyatnya gelombang tsunami.

Musium yang terdiri dari dari 4 lantai ini, pada lantai 1 terdapat beberapa ruangan yang berisi rekam jejak kejadian tsunami 2004. Antara lain ruang pameran tsunami, pra tsunami, saat tsunami dan ruang pasca tsunami. Selain itu, beberapa gambar peristiwa tsunami, artefak jejak tsunami, dan diorama juga ada di lantai ini. Salah satunya adalah diorama kapal nelayan yang diterjang gelombang tsunami dan diorama kapal PLTD Apung yang terdampar di Punge Blang Cut.

Sedangkan di lantai 2-3 berisi media-media edukasi berupa perpustakaan, ruang alat peraga, ruang 4D (empat dimensi), dan souvenir shop. Alat peraga yang ditampilkan antara lain yaitu : rancangan bangunan yang tahan gempa, serta model diagram patahan bumi. Selain itu juga ada beberapa fasilitas terus disempurnakan seperti ruang lukisan bencana, diorama, pustaka, ruang 4 dimensi, serta cafe. Eksterior museum ini mengekspresikan keberagaman budaya Aceh dengan ornamen dekoratif berunsur transparansi seperti anyaman bambu.

LEAVE A REPLY