Istimewa

Hallomuslim.com – Pondok Pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan agama Islam yang khas di Indonesia. Keberadaannya tidak dinafikan lagi sebagai tempat yang telah melahirkan banyak tokoh intelektual Muslim terkemuka di negeri ini. Sejak masa kolonial, pesantren telah menyebar ke seantero negeri dengan berbagai ciri dan kekhasan masing-masing. Namun di antara pesantren yang ada di Nusantara, nama Pondok Modern Darussalam Gontor menjadi pesantren pertama dengan menerapkan sistem pendidikan modern di era pra kemerdekaan.

Pada 20 September 1926 (12 Rabi’ul Awal 1345) embrio pondok modern mulai berdiri di Desa Gontor, Ponorogo. Sebelumnya telah berdiri pula Pesantren  Gontor Lama yang diasuh oleh Kyai. Santoso Anom Besari, namun di usia muda Kyai Santoso telah meninggal dunia serta meninggalkan seorang istri dan 7 anak.

Pesantren Gontor Lama sempat mengalami kemajuan pesat, para santri yang datang menuntut ilmu di pondok ini tidak hanya berasal dari Kabupaten Ponorogo. Konsep pendidikan pesantren ini tidak jauh berbeda dengan pesantren tradisional pada umumnya. Santri dari luar daerah pun banyak yang menimba ilmu di pesatren yang terletak di desa yang kecil ini. Hal ini merupakan bukti betapa besarnya antusias masyarakat untuk menimba ilmu agama di pesantren.

Sayangnya setelah Kyai Santoso wafat perlahan nama pesantren ini mulai redup, belum tampak pengganti Kyai Santoso yang meneruskan tongkat estafet perjuangannya. Untuk sementara waktu, akhirnya Pondok Gontor Lama dinyatakan vakum, kemudian hal ini berdampak pada kehidupan sosial keagamaan masyarakat di sekitar pesantren. Masyarakat Muslim di Desa Gontor dan sekitarnya sebelumnya taat beragama namun kondisi itu terbalik 180 derajat.

Ketika tiga putra Kyai Santoso (Ahmad Sahal, Zainuddin Fanani dan Imam Zarkasyi) tengah belajar di pesantren, rupanya Allah memanggil ibu mereka. Akhirnya  mereka pun harus kehilangan kedua orang tua sebelum menamatkan sempat pendidikan agamanya. Hal ini merupakan ujian berat bagi putra dan putri seorang kyai yang telah berjasa bagi umat, saat itu umur Zarkasyi baru 10 tahun.

Setelah wafat sang ibu, ketujuh anaknya mengadakan musyawarah, maka Zarkasyi dan dua kakaknya, Ahmad Sahal dan Zainuddin Fanani  mengusulkan agar harta pusaka peninggalan orang tua mereka jangan diusik sampai 10 tahun ke depan. Karena mereka harus melanjutkan tongkat estafet perjuangan almarhum ayahnya dalam mendirikan pesantren. Tujuannya adalah tanah warisan kedua orang tua mereka diolah kemudian hasilnya untuk membiayai pendidikan mereka bertiga.

Kini, setelah para pendiri Pondok Modern Gontor tersebut wafat. Terdapat Trimurti penerus yang memimpin Pondok Gontor. Mereka adalah Dr. KH Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A dan KH Syamsul Hadi Abdan, S.Ag. dan KH Hasan Abdullah Sahal.

Sosok Guru Besar  Kyai Hasan Abdullah Sahal

Kiyai Hasan Hasan Abdullah Sahal terkenal dikalangan Kyai pesantren di seluruh Indonesia dan juga para tokoh-tokoh besar islam di Indonesia. Bersama Dr. KH Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A dan KH Syamsul Hadi Abdan, S.Ag. Kiayi Hasan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo.

KH Hasan Abdullah Sahal lahir pada tanggal 24 Mei 1947 dan merupakan salah seorang anak dari KH Ahmad Sahal. KH Ahmad Sahal termasuk dalam 3 pendiri Pesantren Gontor yang lebih dikenal dengan sebutan Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor. Mereka adalah KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie dan KH Imam Zarkasyi.

Kini KH Hasan Abdullah Sahal dan KH Syamsul Hadi Abdan, S.Ag harus bekerja cukup ekstra untuk Pesantren Gontor, masyarakat dan ummat. Hal ini karena kondisi kesehatan Dr. KH Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A sedang menurun sehingga tidak bisa terjun ke pesantren dengan maksimal. Semoga beliau-beliau selalu diberikan kesehatan oleh Allah SWT untuk mengabdi pada umat. Amin.

 

LEAVE A REPLY