Ilustrasi Santri

Hallomuslim.com – Ulama mempunyai peranan penting bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Apalagi di era yang serba berkemajuan ini, kaderisasi ulama plus atau ulama intelek sangat dibutuhkan. Baru-baru ini, Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Madrasah Ditjen Pendidikan Islam kembali merevitalisasi keberadaan Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK).

Rencananya, Kemenag akan membuka kembali Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK). Pendaftaran peserta didik baru (PPDB) MAPK ini akan dibuka secara online pada 6 Februari 2017 pekan depan.

Kasubdit Kesiswaan Direktorat Pendidikan Madrasah Ida Nurkosim mengatakan bahwa ada 10 MAPK yang akan kembali beroperasi mulai tahun ini. Kesepuluh madrasah tersebut adalah MAPK Samarinda, Jember, Jombang, Surakarta, Martapura, NTB, Sulawesi Selatan, Padang, Ciamis, dan Yogyakarta.

“Pendaftaran PPDB akan dibuka serentak secara online pada tanggal 06 Februari 2017,” ujarnya di hadapan Wakil Ketua Komisi VIII Shodik Mudjahid beserta anggota komisi lainnya, Kepala Kanwil Kemenag Prov. Kaltim Saifi, Karo Kesra Pemprov Kaltim Safrian Hasani, serta Kankemenag Balikpapan Hakimin.

Karena 2017 adalah tahun pertama, Ida mengaku masih akan memantau animo masyarakat mendaftarkan anaknya di MAPK. Pada saat yang bersamaan, Direktorat Pendidikan Madrasah (Ditpenmad) juga akan terus melakukan pembenahan sistem pendaftaran.

Ditpenmad pada tahun ini juga akan melakukan penguatan sarana serta peningkatan kualitas tenaga pendidik dan kependikan. Setiap MAPK telah dialokasikan anggaran sebesar Rp2 miliar dengan komposisi 60% untuk membangun sarana prasarana, sedang 40% lainnya untuk penguatan yang bersifat non sarpras.

MAPK difokuskan untuk mencetak peserta didik yang mendalami ilmu agama (tafaqquh fiddin). Ida berharap dari MAPK akan lahir generasi bangsa yang memahami ilmu agama, moderat, serta memiliki wawasan kebangsaan dan keindonesiaan yang kuat. Untuk tujuan itu, 70% muatan kurikulum MAPK adalah pelajaran agama. Keunggulan lainnya adalah penguatan aspek kebahasaan, baik Bahasa Arab maupun Inggris.

Sebagai informasi, program MAPK ini sebenarnya telah berjalan pertama kali pada tahun 1988 saat periode Menteri Agama Munawir Sjadzali. Namun pada tahun 2007, program ini sempat dihentikan. Padahal, dari madrasah ini telah melahirkan ribuan alumni berkualitas seperti Jimmly Asshiddiqie, Habiburahman el Shirazy, dan lainnya. Kementerian Agama lalu memandang MAPK perlu untuk dihidupkan kembali dan direvitalisasi.

Madrasah Aliyah ini didesain dengan kurikulum keagamaan yang padat serta penekanan pada penguasaan Bahasa Arab dan Inggris. MAPK dinilai berhasil menyiapkan lulusan kader ulama yang berwawasan ke-Islaman, ke-Indonesiaan, dan kemodernan yang baik dan menawan.

Program yang diusung MAPK adalah program tafaqquh fi al-din (pendalaman ilmu agama). MAPK adalah lembaga pendidikan formal non-pesantren yang berperan sebagai penyambung (setidaknya sebahagian dari) ‘tradisi pesantren’ yang tujuannya adalah untuk ber-tafaqquh fiddin, dengan trade mark dan unsur utamanya adalah mengkaji kitab kuning.

Secara substantif, hubungan MAPK dan tafaqquh fiddin bagaikan wadah dan isi, MAPK merupakan wadah sedangkan isinya adalah tafaqquh fiddin. MAPK adalah bagian dari madrasah (MA) yang ada pada saat ini dengan struktur program kurikulum yang porsi pelajaran agamanya 70 %.

MAPK/MAK mengajarkan budi pekerti, akhlakul karimah, sikap dan nilai-nilai luhur manusia. Tidak cukup di sini, MAPK/MAK selain menyemaikan ajaran tentang agama dan budi pekerti, MAPK/MAK juga menjadi basis penyemaian ajaran semangat kebangsaan, kebhinekaan, moderatisme, dan nilai-nilai Islam Nusantara. Siswa MAPK berasal dari berbagai provinsi, lintas mazhab dan ragam pemikiran. MAPK adalah miniatur Islam Indonesia

LEAVE A REPLY