Hallomuslim.com – Satu dekade lebih bencana dan musibah gempa Tsunami melanda Aceh dan tepat 26 Desember mendatang, kita akan kembali memperingati kejadian maha dahsyat yang sudah genap 12 tahun.

Seperti tahun-tahun sebelumnya sebaagian masyarakat dunia, khususnya negara-negara yang pernah mengalami bencana gempa dan Tsunami pada tanggal 26 Desember 2004, seperti Thailand, Sri Lanka, Maladewa dan India akan kembali memperingati kejadian bencana tersebut pada tanggal 26 Desember 2016.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Fahlevi menyebutkan, Aceh sebagai salah satu provinsi yang terletak paling barat Indonesia yang mengalami dampak masif kejadian bencana masa silam juga akan memperingati 12 tahun Tsunami.

“Peringatan 12 tahun bencana Tsunami di Aceh kali ini akan dipusatkan di Masjid Baiturrahim Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa Kota Banda Aceh pada hari Senin, 26 Desember 2016 dengan tema “Majukan Negeri Bangun Budaya Siaga Bencana Masyarakat”,” sebutnya yang didampingi Kabid Pemasaran Disbudpar Aceh, Rahmadhani, Senin (19/12/2016).

Melalui tema tersebut, sebut Reza diharapkan seluruh lapirsan masyarakat untuk terus melahirkan perilaku kreatif, inovatif dan amanah serta semangat untuk terus membangun Aceh lebih baik dalam berbagai sektor pembangunan, sekaligus membangun kesadaran masyarakat menuju budaya siaga bencana bersama dengan Pemerintah Aceh.

Dalam kesempatan yang sama, Kabid Pemasaran Disbudpar Aceh, Rahmadhani juga menambahkan peringatan 12 tahun Tsunami di Aceh kali ini tidaklah dilakukan secara masif dibandingkan dua tahun silam yang telah memasuki sepuluh tahun atau satu dekade.

“Ini bukan berarti memperkecil makna dan filosofi peringatan itu sendiri. Sebaliknya, peringatan itu sendiri dilakukan semata-mata untuk selalu mengenang kembali kejadian gempa dan Tsunami dan berterima kasih kepada masyarakat nasional dan internasional yang telah pernah membantu masyarakat Aceh,” jelasnya.

Pemilihan Ulee Lheue yang berada di Kecamatan Meuraxa sebagai lokasi peringatan Tsunami, tambah Rahmadhani, mengingat lokasi tersebut juga telah menjadi daya tarik wisata dan ikon kebangkitan masyarakat.

“Masjid Baiturrahim Ulee Lheue yang didirikan sekitar abad ke-17 masa Kesultanan Aceh juga tidak luput dari hantaman gelombang Tsunami, namun menjadi satu-satunya bangunan yang mampu berdiri tegak dan saksi sejarah serta menjadi ikon kebangkitan masyarakat setempat,” jelasnya.

Pada tanggal 26 Desember 2004, gelombang Tsunami setinggi 25 meter menghantam pesisir utara Banda Aceh. Kawasan Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa yang berada di tepi laut menjadi salah satu wilayah yang paling parah terkena dampak Tsunami atau Smong (dalam bahasa Simeulue) tersebut. Nyaris semua bangunan di wilayah ini rata dengan tanah dan hanyut terhempas gelombang ke arah pusat Kota Banda Aceh serta merengut ribuan korban jiwa.

Masjid Baiturrahim Ulee Lheue dengan desain dan arsitekturnya yang indah telah menjadi salah satu masjid yang sering dikunjungi oleh wisatawan, baik nusantara maupun wisatawan mancanegara lainnya, khususnya wisatawan Malaysia dan menjadi tempat transit untuk melakukan shalat sebelum melanjutkan perjalanan wisata ke Kota Sabang. Adapun untuk sejumlah agenda peringatan 12 Tahun Tsunami tersebut meliputi:

  • Zikir, Doa dan Santunan Anak Yatim yang akan dipimpin oleh Ust. Tgk. Jamhuri Ramli SQ pada hari Minggu, 25 Desember pukul 08.30 WIB di Taman Sulthanah Safiatuddin Banda Aceh;
  • Ziarah ke Kuburan Massal pada hari Senin, 26 Desember pukul 07.30 WIB di Kuburan Massal Ulee Lheue – Banda Aceh
  • Upacara Peringatan Tsunami pada hari Senin, 26 Desember pukul 09.00 WIB di Masjid Baiturrahim Ulee Lheue – Banda Aceh
  • Tausyiah Tsunami yang akan disampaikan oleh Ust. Bachtiar Nasir, Lc dan makan siang (kenduri) bersama masyarakat.

Sementara itu, peringatan beberapa kegiatan pendukung peringatan 12 tahun Tsunami lainnya meliputi lomba Marathon 10K Tsunami Games di Kabupaten Aceh Jaya yang digelar oleh Dispora Aceh, kemudian dialog “Daerah Bencana menuju Masa Depan” – Aceh dan Japan bersama The Laboratory for Global Dialogue, pameran Foto Tsunami oleh Metro Group, serta sejumlah kegiatan pendukung lainnya dari berbagai Komunitas di Aceh dan Jepang.

Sumber : Disbudpar Propinsi Aceh

LEAVE A REPLY